WARTA HMI CABANG BAUBAU - Kepemimpinan
bagaikan sebuah momentum di dalam permainan. Seorang pemimpin harus bertindak
cepat dengan situasi yang tepat ketika terjadi dinamika yang kompleks dalam
masa transisi atau menghadapi detik-detik peralihan kekuasaan. Dalam kondisi
seperti ini pimpinan di tuntuk agar dapat mengurai setiap kalimat, sikap, dan
keputusan yang kredibel. Hal ini penting untuk di lakukan agar dapat menjaga
stabilitas, serta penilaian terhadap pimpinan yang dapat di percaya membawa keberhasilan
suatu institusi. Kondisi seperti ini memang agak sedikit sulit di atasi oleh
seorang pemimpin jika tidak pandai memainkan perannya. Mengambil tindakan pada
situasi yang tidak tepat tentu akan berdampak buruk bagi pemimpin itu sendiri,
kirisis kepercayaan dari masyarakatpun akan dengan muda datang menghampiri. Michael D.Watkins dalam artikelnya yang
berjudul “Obama’s First 90 Days” mengamati
kepemimpinan di awal pemerintahan Barack Obama dimasa transisi yang saat itu
USA sedang di hadapi berbagai kondisi nasional yang tidak stabil.
 |
| Gambar : SYAHRIL H (Demisioner Ketua Umum HMI Komisariat SOSPOL Unidayan 2013-2014 |
Watkins (2009) menjelaskan bahwa sebagai
seorang pemimpin, setidaknya ada 3 dimensi penting yang perlu di perhatikan
yaitu : pertama Securing early wins
(mengamankan kemenangan awal); Kedua
Laying a foundation (melatakan suatu landasan); dan Ketiga Articulation a vision (mengartikulasikan visi). Keberhasilan
Obama meraih simpati karena di dukung dari ketiga dimensi di atas. Penelitian
ini agak relevan dengan tantangan yang akan di hadapi oleh bapak AS Tamrin
menjelang akhir periode pemerintahannya. Apakah AS Tamrin memiliki banyak
peluang untuk menginspirasi dan menarik kepercayaan kembali masyarakatnya sebagaimana
keberhasilan yang dilakukan Obama? Berikut penjabaran dengan menggunakan ketiga
dimensi tersebut untuk menjawab masalah ini. Oleh karena itu, penulis fokus
menggunakan 3 dimensi yang krusial (critical
dimension) sebagai alat bantu untuk memudahkan mengevaluasi dan menyelami
tantangan terberat yang akan di hadapi kedepannya oleh kepemimpinan Walikota
Baubau saat ini.
Fase pertama
yaitu mengamankan kemenangan awal (securing early wins). Tujuan pertama untuk seorang pemimpin di masa transisi
adalah membangun kredibelitas serta kesadaran kepada masyarakat dengan
melakukan perubahan positif. Dalam konteks ini AS Tamrin tidak dapat
mempertahanakan kredibelitasnya pada awal masa pemerintahannnya. Berdasarkan
hasil evaluasi Kementrian Dalam Negeri yang di rilis pada 24 April 2014 yang
lalu mendapatkan predikat yang tidak memuaskan. Dari 91 Kota Indonesia, Kota Baubau
berada pada posisi yang paling terendah. Selain itu, masyarakat merasa tidak
puas terhadap kinerja pemerintahan yang di pimpinnya. Hasil Survei yang di
lakukan oleh KNPI Kota Baubau menunjukan, sekitar 40,4 % responden yang menjawab
biasa-biasa saja, 29,5 % merasa tidak puas, 11,0% merasa sangat tidak puas, dan
yang menjawab Sangat Puas sebanyak 1,4 %.
Fase Kedua yaitu
memperkuat fondasi (Laying a Foundation).
Untuk memperkuat fondasi pemerintahan dalam rangka merealisasikan
agenda-agenda politiknya maka perlu membentuk tim kerja yang baik. Dalam
konteks ini, pada awal pemerintahan AS Tamrin sebagai walikota Baubau melakukan
kebijakan mutasi kepegawaian secara masal. Kebijakan ini mendapat respon
negatif dari pegawai yang di non-job tersebut karena dianggap cenderung politis
dan bertentangan dengan regulasi yang berlaku (Butonpos/31 April 2013). Konflik
di tataran birokrasi yang cukup berlangsung lama ini tentunya sangat menghambat
kinerja birokrasi serta menghambat fondasi ini yang semestinya harus di perkuat
oleh seorang pemimpin di masa-masa transisi awal kekuasaannya.
Fase Ketiga yaitu
mengartikulasikan visi (Articulation a
vision). Para pemimpin yang baru maupun yang akan memimpin kedepannya harus
dapat segera mungkin mengkomunikasikan visi yang menarik untuk apa yang akan
mereka lakukan. Pada bagian ini, masih di temuka salah satu visi AS Tamrin yang
masih terlihat begitu abstrak. Visi Kota
Baubau Tahun 2013-2018 terdapat tiga kata kunci, yaitu : Baubau Yang Maju, Sejahtera,dan Berbudaya. Pada bagian ini di fokuskan pada visi
point ketiga yaitu berbudaya. untuk mewujudkan pemerintahan yang berbudaya
stakeholders ditekankan untuk merealisasikan nilai PO-5 (Pobinci-binciki kuli, Pomaa-maasiaka, Popia-piara,
Poangka-angkata dan Pomae-maeka). Menurut penulis, masih terdapat ketidakjelasan AS Tamrin
dalam mengartikulasikan visi tersebut. Bagaimankah prinsip PO-5 tersebut di
tuangkan dalam kerja-kerja teknis pemerintah untuk terealisasi, serta bagaimana
dalam mengukur pencapainnya. Pada bagian ini juga AS Tamrin terlihat lemah dalam
mengartikulasikan visi tersebut untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat.
Karena disaat bersamaan kondisi kota baubau saat ini masih terbilang cukup rawan
karena konflik dan tidakan kriminalitas.
Berdasarkan
hal tersebut, tantangan bagi AS Tamrin kedepannya sudah tentu tidak begitu
muda. Beliau harus dapat menjawab segala kekeliruan di awal pemerintahannya
dengan memainkan peran pada kondisi yang tepat agar kembali mendapatkan
kepercayaan publik. Penting untuk di garis bawahi, bahwa di masa transisi baik
di awal maupun di akhir pemerintahan, seorang pemimpin perlu kiranya untuk
memahami dari ketiga dimensi ini. Kelemahan dari salah satu dari dimensi
tersebut akan meletakan masalah di depan, sehingga dapat berdampak negatif pada
diri pemimpin itu sendiri.