Selasa, 14 Maret 2017

Fadli Hasan : Kader HMI dan Entrepreneur

WARTA HMI CABANG BAUBAU-Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi (KPP) Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Baubau saat ini juga mulai merealisasikan program kerjanya. KKP sebagai salah satu bidang ekternal HMI pada triwulan pertama ini lebih fokus untuk mengadakan pelatihan dalam bentuk workshop agar menumbuhkan motivasi wirausaha dalam diri kader HMI sebagai bekal dimasa yang akan datang.   

Gambar : Fadli Hasan (Ketua Bidang KPP HMI Cabang Baubau)
Fadli Hasan yang saat ini menjabat sebagai Ketua Cabang Bidang KPP mengungkapkan bahwa jiwa entrepreneur sangatlah penting untuk dimiliki tiap kader HMI. Kita sama-sama tahu bahwa saat ini banyak jebolan-jebolan perguruan tinggi yang tidak mampu bersaing didunia kerja karena tidak memiliki skill dalam berbagai macam bidang atau karena tidak mau melibatkan diri pada berbagai kegiatan sejak mereka masih berada dibangku kuliah. Makanya sebagai sebuah organisasi kemahasiswaan tertua di Indonesia, HMI harus menyiapkan wadah untuk membina anggota maupun kader agar memiliki skill dalam bidang apapun.

Bidang Kewirausahaan dan Pengembangan Profesi (KPP) merupakan salah satu bidang yang bertanggungjawab untuk urusan tadi lanjut Fadli. Makanya dalam waktu dekat ini, kami akan melaksanakan Workshop kewirausahaan dan pengembangan profesi yang akan diikuti oleh seluruh kader HMI cabang Baubau. Fadli juga mengatakan bahwa pihaknya akan berkomunikasi dengan pemerintah kota Baubau untuk bekerjasama dalam pelaksanaan kegiatan tersebut. Kami berharap  kegiatan ini dapat membentuk kader yang memiliki kemampuan berwirausaha. Selain itu, kami juga ingin menunjukan kepada masyarakat kota Baubau bahwa kader HMI tidak hanya cenderung pada urusan politik praktis maupun demonstrasi tapi kita juga mampu menciptakan peluang-peluang usaha yang akan menjadi bekal para kader untuk dibaktikan kepada masyarakat sebagaimana tertuang dalam tujuan HMI tutupnya.

 

Laporan : Syamril (Wasekum Bidang Kesekretariatan)

  

 

Senin, 13 Maret 2017

SYAHRIL H : TANTANGAN AS THAMRIN DIMASA TRANSISI KEKUASAAN

WARTA HMI CABANG BAUBAU -  Kepemimpinan bagaikan sebuah momentum di dalam permainan. Seorang pemimpin harus bertindak cepat dengan situasi yang tepat ketika terjadi dinamika yang kompleks dalam masa transisi atau menghadapi detik-detik peralihan kekuasaan. Dalam kondisi seperti ini pimpinan di tuntuk agar dapat mengurai setiap kalimat, sikap, dan keputusan yang kredibel. Hal ini penting untuk di lakukan agar dapat menjaga stabilitas, serta penilaian terhadap pimpinan yang dapat di percaya membawa keberhasilan suatu institusi. Kondisi seperti ini memang agak sedikit sulit di atasi oleh seorang pemimpin jika tidak pandai memainkan perannya. Mengambil tindakan pada situasi yang tidak tepat tentu akan berdampak buruk bagi pemimpin itu sendiri, kirisis kepercayaan dari masyarakatpun akan dengan muda datang menghampiri. Michael D.Watkins dalam artikelnya yang berjudul “Obama’s First 90 Days” mengamati kepemimpinan di awal pemerintahan Barack Obama dimasa transisi yang saat itu USA sedang di hadapi berbagai kondisi nasional yang tidak stabil.
Gambar : SYAHRIL H (Demisioner Ketua Umum HMI Komisariat SOSPOL Unidayan 2013-2014
Watkins (2009) menjelaskan bahwa sebagai seorang pemimpin, setidaknya ada 3 dimensi penting yang perlu di perhatikan yaitu : pertama Securing early wins (mengamankan kemenangan awal); Kedua Laying a foundation (melatakan suatu landasan); dan Ketiga Articulation a vision (mengartikulasikan visi). Keberhasilan Obama meraih simpati karena di dukung dari ketiga dimensi di atas. Penelitian ini agak relevan dengan tantangan yang akan di hadapi oleh bapak AS Tamrin menjelang akhir periode pemerintahannya. Apakah AS Tamrin memiliki banyak peluang untuk menginspirasi dan menarik kepercayaan kembali masyarakatnya sebagaimana keberhasilan yang dilakukan Obama? Berikut penjabaran dengan menggunakan ketiga dimensi tersebut untuk menjawab masalah ini. Oleh karena itu, penulis fokus menggunakan 3 dimensi yang krusial (critical dimension) sebagai alat bantu untuk memudahkan mengevaluasi dan menyelami tantangan terberat yang akan di hadapi kedepannya oleh kepemimpinan Walikota Baubau saat ini.
 
Fase pertama yaitu mengamankan kemenangan awal (securing early wins). Tujuan pertama untuk seorang pemimpin di masa transisi adalah membangun kredibelitas serta kesadaran kepada masyarakat dengan melakukan perubahan positif. Dalam konteks ini AS Tamrin tidak dapat mempertahanakan kredibelitasnya pada awal masa pemerintahannnya. Berdasarkan hasil evaluasi Kementrian Dalam Negeri yang di rilis pada 24 April 2014 yang lalu mendapatkan predikat yang tidak memuaskan. Dari 91 Kota Indonesia, Kota Baubau berada pada posisi yang paling terendah. Selain itu, masyarakat merasa tidak puas terhadap kinerja pemerintahan yang di pimpinnya. Hasil Survei yang di lakukan oleh KNPI Kota Baubau menunjukan, sekitar 40,4 % responden yang menjawab biasa-biasa saja, 29,5 % merasa tidak puas, 11,0% merasa sangat tidak puas, dan  yang menjawab Sangat Puas sebanyak 1,4 %.
 
Fase Kedua yaitu memperkuat fondasi (Laying a Foundation). Untuk memperkuat fondasi pemerintahan dalam rangka merealisasikan agenda-agenda politiknya maka perlu membentuk tim kerja yang baik. Dalam konteks ini, pada awal pemerintahan AS Tamrin sebagai walikota Baubau melakukan kebijakan mutasi kepegawaian secara masal. Kebijakan ini mendapat respon negatif dari pegawai yang di non-job tersebut karena dianggap cenderung politis dan bertentangan dengan regulasi yang berlaku (Butonpos/31 April 2013). Konflik di tataran birokrasi yang cukup berlangsung lama ini tentunya sangat menghambat kinerja birokrasi serta menghambat fondasi ini yang semestinya harus di perkuat oleh seorang pemimpin di masa-masa transisi awal kekuasaannya.
 
Fase Ketiga yaitu mengartikulasikan visi (Articulation a vision). Para pemimpin yang baru maupun yang akan memimpin kedepannya harus dapat segera mungkin mengkomunikasikan visi yang menarik untuk apa yang akan mereka lakukan. Pada bagian ini, masih di temuka salah satu visi AS Tamrin yang masih terlihat begitu abstrak. Visi Kota Baubau Tahun 2013-2018 terdapat tiga kata kunci, yaitu : Baubau Yang MajuSejahtera,dan Berbudaya. Pada bagian ini di fokuskan pada visi point ketiga yaitu berbudaya. untuk mewujudkan pemerintahan yang berbudaya stakeholders ditekankan untuk merealisasikan nilai PO-5 (Pobinci-binciki kuli, Pomaa-maasiaka, Popia-piara, Poangka-angkata dan Pomae-maeka). Menurut penulis, masih terdapat ketidakjelasan AS Tamrin dalam mengartikulasikan visi tersebut. Bagaimankah prinsip PO-5 tersebut di tuangkan dalam kerja-kerja teknis pemerintah untuk terealisasi, serta bagaimana dalam mengukur pencapainnya. Pada bagian ini juga AS Tamrin terlihat lemah dalam mengartikulasikan visi tersebut untuk mendapatkan kepercayaan dari masyarakat. Karena disaat bersamaan kondisi kota baubau saat ini masih terbilang cukup rawan karena konflik dan tidakan kriminalitas.
 
Berdasarkan hal tersebut, tantangan bagi AS Tamrin kedepannya sudah tentu tidak begitu muda. Beliau harus dapat menjawab segala kekeliruan di awal pemerintahannya dengan memainkan peran pada kondisi yang tepat agar kembali mendapatkan kepercayaan publik. Penting untuk di garis bawahi, bahwa di masa transisi baik di awal maupun di akhir pemerintahan, seorang pemimpin perlu kiranya untuk memahami dari ketiga dimensi ini. Kelemahan dari salah satu dari dimensi tersebut akan meletakan masalah di depan, sehingga dapat berdampak negatif pada diri pemimpin itu sendiri.


Sabtu, 11 Maret 2017

Bidang Pembinaan Anggota Tertibkan Pengkaderan

Warta HMI Cabang Baubau- Ketua Cabang Baubau Bidang Pembinaan Anggota (PA) saat ini mulai juga merealisasikan program kerjanya sebagaimana bidang-bidang yang lain. Fokus program yang dilakukan pada semester pertama kepengurusan ini adalah melakukan pembenahan diinternal terkhusus pada wilayah pengkaderan.

Gambar : La Ode Syafrin (Ketua Bidang Pembinaan Anggota)
Menurut La Ode Syafrin yang kini menjabat sebagai Ketua Cabang Bidang Pembinaan Anggota (PA), pengelolaan pengkaderan dalam HMI mestinya dilakukan oleh Badan Pengelola Latihan (BPL). Namun karena saat ini kita masih dalam tahap persiapan pembentukan BPL dan koordinasi dengan BPL PB HMI jadi segala bentuk pelatihan lingkup cabang Baubau menjadi tanggungjawab Bidang PA ungkapnya saat ditemui dikediamannya (10-03-2017).
Ia juga mengatakan bahwa mulai saat ini kita akan tertibkan segala bentuk pengkaderan yang dilakukan oleh HMI dicabang Baubau baik Basic Training komisariat maupun kader yang akan mengikuti Intermediate Training diluar cabang Baubau.
 
“Saat ini kami sudah menyusun beberapa persyaratan untuk melakukan dan mengikuti pengkaderan. Misalkan untuk basic training itu kami akan sampaikan kepada komisariat yang bersangkutan untuk menyampaikan nama-nama peserta yang dinyatakan lulus kepada bidang pembinaan anggota. Ini penting kita lakukan agar cabang memiliki data anggota. Kemudian bagi yang akan mengikuti intermediate training, PA juga akan melakukan screening kepada calon-calon anggota sebelum diberangkatkan. Setelah pulang LK II, para delegasi tersebut harus menyetor foto copy sertifikatnya untuk dijadikan arsip cabang terkhusus pada bidang PA” tutur La Ode Syafrin yang akrab disapa Orin.
 
Pengurus HMI Cabang Baubau melalui Bidang Pembinaan Anggota (PA) juga berharap kepada seluruh kader HMI Cabang Baubau untuk tetap berproses dengan baik dan mengikuti segala jenjang pengkaderan sebagaimana cabang-cabang lainnya di Indonesia tutup La Ode Syafrin.
 
Laporan : Syamril (Wasekum Bidang Kesekretariatan)  

Kamis, 02 Maret 2017

Bidang PAO Ancam Karatekerkan Komisariat


 

Foto : Ridwan (Bidang Pembinaan Aparatur Organisasi)
Dalam rangka realisasi program kerja pengurus Himpunan Mahasiswa Islam Cabang Baubau, Bidang Pembinaan Aparatur Organisasi (PAO) telah bersurat keseluruh komisariat penuh lingkup cabang Baubau untuk meminta SK Kepengurusan sebelumnya guna dievaluasi oleh cabang melalui bidang PAO. Surat tersebut sudah diedarkan sejak 24 februari lalu dengan ketentuan batas penyetoran SK adalah tanggal 4 maret.

Saat dikonfirmasi, Ridwan sebagai staf bidang PAO mengatakan bahwa pihaknya akan memberikan batasan waktu penyetoran SK hingga pukul 23.59 WITA pada 4 Maret nanti. Apabila terlambat dan tidak menyetor SK, maka cabang akan mengambil alih kepengurusan dengan menurunkan karateker pada komisariat. Ia juga mengatakan bahwa hal ini dilakukan agar aparatur organisasi lebih disiplin secara administrasi dan memang secara struktural, menjadi tanggungjawab PAO dalam HMI.

Sampai saat ini, kami sudah mengkonfirmasi seluruh komisariat penuh, namun ada beberapa komisariat yang tidak mau menerima surat tersebut lanjut Ridwan. Tapi kami tidak menjadikan suatu beban terhadap sikap teman-teman komisariat yang enggan mengumpul SK karena itu tidak akan mempengaruhi kebijakan cabang dalam menertibkan komisariat-komisariat guna menunjang tetap berjalannya regenerasi kader yang hendak berproses sebagai pengurus komisariat kedepan.

Selain itu, kami juga menghimbau seluruh komisariat lingkup cabang Baubau untuk terlebih dahulu menyampaikan pemberitahuan kepada cabang melalui PAO sebelum melakukan Rapat Anggota Komisariat (RAK). Ini juga perlu dilakukan agar kedepan, kami tidak kaget saat teman-teman menyampaikan laporan hasil-hasil RAK yang akan dibahas dalam rapat internal PAO sebelum diajukan kerapat harian cabang. Kan sangat aneh jika sebelumnya kita tidak tahu akan RAK kemudian tiba-tiba kita menerima laporan hasil RAK tutupnya. (Syamril)